14 Oktober 2011

Kerajaan Awal Masa Hindu-Budha

Chupo
Kalimantan Utara merupakan salah satu daerah yang terpengaruh oleh kebudayaan neolitikum. Daerah itu berkembang sampai masa berkembangnya kebudayaan logam. Menurut berita dari Cina pada abad ketiga mengatakan bahwa wilayah itu telah berdiri sebuah kerajaan yang bernama Chu-po. Kerajaan ini memiliki hubungan perdagangan dengan kerajaan Funan, komuditas utama Chu-po dalam perdagangan yaitu mengekspor besi.
Kutai
Kerajaan Kutai diperkirakan berada di daerah Kutei lama, Muara kaman, Kota Bangun, dan Sebulu. Namun letaknya kerajaan Kutai yang jelas berada di daerah sekitar Sungai Mahakam, Kalimantan Timur.
Bukti mengenai keberadaan kerajaan ini dapat ditelusuri melalui tujuh prasasti atau yang disebut yupa. Yupa ditulis dalam bahasa sanskrit yang ditemukan di Muara Kaman. Prasasti ini diperkirakan ditulis pada akhir abad ke-4 dan awal abad ke-5. Isi dari prasasti itu mengenai seorang raja yang bernama Mulavarman yang memberi sedekah berupa tanah, emas, dan lembu kepada para brahmana yang tinggal di tempat yang bernama Vaprakesvara.
Adapun Mulavarman sendiri adalah cucu dari seorang kepala suku yang bernama Kudungga dan ayahnya bernama Asmavarman. Adapun dalam berita Cina yang ditulis oleh Fa-Hsien menyebutkan bahwa kerajaan yang terdapat di Kalimantan itu pernah dipimpin oleh Raja Devavarman, Asvavarman, dan kemudian Mulavarman.
Terdapat hal menarik dalam penyebutan nama antara Kudungga dengan Devavarman. Devavarman dapat diartikan sebagai penyebutan nama atas Kudungga. Nama Kudungga sendiri jelas bukan merupakan nama yang berbau Hindu. Devavarman merupakan nama yang berbau Hindu, pemberian dari brahmana untuk menunjukkan bahwa Mulawarman sebagia keturunan seorang Hindu. Namun, Kudungga sendiri tidak dianggap sebagai pendiri dinasti. Yang dianggap sebagi pendiri dinasti adalah Asvavarman. Karena nama Asvavarman dan Mulavarman, dihadapkan nama-nama yang berbau Hindu.
Dalam Prasati itu juga disebutkan bahwa Mulavarman mengundang para brahmana yang berasal dari India untuk datang ke negaranya. Hal ini menunjukkan bahwa Kutai bukan merupakan kerajaan yang terisolasi atau tidak melakukan hubungan dengan negara lain. Brahmana sendiri akan tinggal di pura, pura sebagai perwujudan penghormatan Mulawarman atas leluhurnya.
Kerajaan Kutai sebagai sebuah kerajaan yang dapat mentransformasikan kepemimpinan yang bersifat tradisi menuju kepemimpinan yang mengadopsi kebudayaan India, serta telah mampu membentuk sebuah kerajaan menurut sistem keluarga atau dinasti.
Kerajaan- Kerajaan Yang Muncul Pada abad ke-5 dan abad ke-6
Periode ini dinamakan sebagai masa transisi jalur perdagangan. Perubahan jalur perdagangan yang mulanya pedagang dari China maupun India menggunakan jalur Samudra Hindia atau pantai Selatan Sumatra kini beralih ke jalur Selat yaitu melalui selat Malaka. Sehingga dalam perkembangan selanjutnya muncul beberapa kerajaan yang pada mulanya hanya sebuah city- state.
Lin Yi – Champa
Pada mulanya Lin Yi adalah sebuah kota dan merupakan pusat kegiatan politik pada 446 M. Tetapi pada perkembangan selanjutnya sebuah kamp politik baru dibentuk dan dialihkan dari selatan Hai Van Pass ke Tra Kieu, di wilayah yang namanya Quang Nam.
Sulit diketahui mengenai keadaan kerajaan ini pada periode ini walaupun ada pendapt bahwa kerajaan ini merupakan bagian kekuasaan dari kerajaan Funan pada masa pemerintahan raja Jayavarman. Pada tahun 446 raja Funan yang bernama Jayavarman mengirim seorang pendeta Hindu yang bernama Nagasena ke China Selatan yang tugasnya adalah untuk menyetorkan upeti dalam rangka mengajak raja kerajaan tersebut melakukan persekutuan denganya untuk menghadapi saudaranya yang bernama Tan Ken T’chouen yang menguasai Lin Yi. Ternyata aliansi dari Jayavarman berhasil untuk menguasi daerah pelabuhan di Cham.
Raja Cham yang bernama Rudravarman mengirim utusan ke China pada 592 M, dan memperkuat pasukan disebelah utara dan selatan wilayah kerajaannya. Hal itu dilakukan untuk melakukan invasi ke Tonkin, namun usaha itu gagal akibat dominasi Cina atas wilayah itu. Ia digantikan oleh anaknya yang bernama Shabuvarman yang menurut prasasti yang dituliskan oleh ia sendiri bahwa ia seorang penyemabah Syiwa
Ketika Cina dibawah kekuasaan dinasti Sui, Cina melakukan serangan ke Champa yang bertujuan untuk menguasai semua hasil alam dan kekayaanya. Serangan ini mengakibatkan Champa menjadi bagian kekuasan dari Cina. Seranagn itu mengakibatkan beberapa buku dan emas dirampas oleh Cina. Serangan itu juga memaksa Raja Shabuvarman mengungsi dari kerajaanya, akhirnya ia digantikan oleh putranya yang bernama Kandhapadarma.
Tetapi setelah Cham dipimpin oleh Kadhapadarma, Cham menjadi terpecah belah. Cham bersatu kembali setelah dipimpin oleh raja Prakashadharma pada 653 M, anak dari sepupu Kandhapadharma. Raja ini kemudian mengganti namanya menjadi Vikantravarman, dan pada periode raja ini penyembahan kepada Dewa Wisnu berkembang dengan pesat.
Kepepimpinan dari Vikantravarman membawa perubahan yang sangat pesat pada Cham. Cham memiliki pelabuhan perdagangan yang sangat ramai, letaknya yang strategis berada ditengah-tengah daerah Indocina, adanya hubunganperdagangan dengan negar lain terutama negara di kawasan Indonesia.
Pada perkembangan selanjutnya terjadi suatu perebutan pelabuhan-pelabuhan dagang dengan kerajaan Khmer yang terjadi berlarut larut hingga munculnya dominasi Cina menyelimuti wilayah ini pada 939 M.
PanPan
Sumber China menyebutkan bahwa mereka menerima banyak utusan dari Panpan pada abad ke-5 dan abad ke-6 , dimana utusan tersebut ini mempersembahkan hasil-hasil perdagangan dan harta karun Budha. Utusan ini meminta persetujuan Kerajaan China agar PanPan dapat merdeka dari kekuasaan Funan dan mereka akan terus melakukan hubungan dengan Cina. Hubungan itu berupa hubungan kerjasama dalam bidang ekonomi dan politik. Dalam bidang ekonomi PanPan akan memberikan upeti dan utusan untuk diserahkan kepada Cina, sedangkan Cina akan berupaya untuk melindungi PanPan.
Sumber China juga menyebutkan bahwa kota di PanPan dibangun di dekat laut. Disana juga terdapat banyak Brahmana yang berasal dari India, para Biksu, dan Tao. Ini menunjukkan bahwa PanPan terpengaruh oleh kebudayaan dari Cina.
Setelah keruntuhan Funan pada abad ke-6 PanPan menjadi anggota Dvaravati, sebuah perkumpulan kota yang didirikan oleh Mon yang letaknya di delta sungai Menam. Letak PanPan sangat strategis mungkin itulah yang mengakibatkan kerajaan tersebut menjadi penguasa di Semenanjung Malaya setelah Kedah dan Langkasuka menjadi koloni Srivijaya.
PanPan mengalami keruntuhan setelah mendapatkan serangan dari Srivijaya. panPan kehilangan kontrol atas wilayah kekuasaanya terutama didaerah Siam dan Kedah. Daerah itu merupakan pusat ekonomi bagi PanPan. Dengan dikuasainya daerah itu oleh Srivijaya, maka PanPan menjadi sebuah daerah taklukan bagi Srivijaya. Namun Srivijaya tidak membentuk sebuah pemerintahn baru disana, mnamun Srivijaya memberikan hak otonomi kepada PanPan.
Langkasuka- Kedah.
Langkasuka mengirim utusan pertamanya ke China pada 515 M, bersamaan dengan jatuhnya Kerajaan Funan. Utusan dikirim oleh raja yang bernama Bhagadatta. Sumber- sumber yang menunjukkan mengenai kerajaan ini diantaranya catatan Liang Shu dan Ma Touan- Lin. Mereka menulis tentang tata cara pernikahan yang dilakukan di Langkasuka yang hampir sama denagn tata cara pernikahan bagi umat Hindu.
Langkasuka berdiri pada abad 7 M. Catatan Yi-Tsing menyebutkan bahwa Kedah pada periode 685 dan 689 menjadi bagian dari Kerajaan Srivijaya. Kedah dan Langkasuka menjadi bagian kekuasaan dari Srivijaya, karena kedua negara itu membutuhkan perlindungan keamanan dari Srivijaya. Srivijaya dapat memberikan fasilitas keamanan bagi negara tetangga karena pada waktu itu Srivijaya merupakan salah satu kerajaan terbesar dan terkuat. Kehancuran Srivijaya akibat serangan dari Jawa, sehingga ketidakstabilan kondisi Srivijaya, merupakn faktor prndorong timbulnya negara-negara baru. Negara-negara yang dahulu berada dibawah kekuasaan Srivijaya mulai mendirikan negar sendiri yang berdaulat. Salah satu kerajaan itu adalah Kedah yang terletak di semenanjung Malaya,wilayahnya yang strategis dekat dengan Selat Malaka menjadi negara paling kuat dan paling kaya di Semenanjung Malaya.
Kantoli
Pada abad 5 M Kantoli sudah dikenal di Liang-Shu sebagai salah satu kerajaan penting pada jaringan perdagangan di luar pengaruh dan kekuasaan Funan. Ming Shu memberitahukan bahwa Sanfotsi ( nama China dari Srivijaya) adalah Kantoli. Ini diperkuat dengan letak Kantoli yang berada diantara Jambi dan Palembang. Kantoli juga bisa dianggap sebagai kerajaan awal sebelum munculnya kerajaan Srivijya atau melayu, bil aditinjau dari letak wilayahnya.
Kantoli mengirim utusan pertama ke Cina pada tahun 454 sampai dengan 464 M. Raja yang mengirim utusan itu bernama Sri Varanarendra sedangkan utusannya bernama Rudra, orang yang bersal dari India. Pada tahun 502 Kantoli dipimpin oleh Gautama Subhadra (yang merupakan putra dari Pyravaraman Vinyiavarman yang mengirim utusan ke China pada tahun 519 M).
Perekonomian Kantoli tergantung pada ekspor hasil hutan. Perekonomian ini dipengaruhi oleh letak Kantoli di pulau Sumatra yang memiliki hasil hutan yang melimpah dan sangat laku di pasaran. Kerajaan Kantoli mulai menunjukkan tanda-tanda kemunduran. Kemunduran ini akibat serangan dari Cina. Tetapi Cina tidak secara langsung menguasai Kantoli, Cina hanya membentuk sebuah pemerintahan otonomi di Kantoli, dengan dipilihnya Wendi untuk melakukan perombakan di Kantoli. Sehingga Kerajaan Kantoli dapat memperoleh kembali masa kejayaanya. Tetapi kejayaan itulah yang mengkibatkan keruntuhan Kerajaan Kantoli. Hal ini disebabkan karena kehidupan para bangsawanya yang suka berfoya-foya dan suka bermewah- mewahan. Hal ini diperparah dengan komoditi ekspor yang berupahasil hutan yang tidak laku di pasaran. Hal inilah yang membuat Kerajaan Kantoli runtuh.
Holotan
Kerajaan Holotan diperkirakan terletak di Jawa Barat atau Sunda. Berdasarkan catatan berita dari Fa Hsien pada tahun 412 M. Terdapat tujuh utusan yang dikirim ke China pada periode 430 sampai dengan 452 M. Utusan dikirim kepada raja Liu Sang pada 435 M. Adapun raja yang mengirim bernama Sri Paduka Purnavarman yang komplain karena diserang oleh negara tetangganya.
Agama Budha belum berkembang di Holotan, namun penduduk Holotan sudah mengenal agama Hindu dan animisme. Tidak ada bukti lanjutan mengenai kepemimpinan raja Sri Paduka Purnavarman setelah 452 M, ini diasumsikan bahwa kerajaan ini sudah dihancurkan oleh kerajaan tetangganya yaitu Tarumanegara.
Tarumanegara ( Tolomo )
Keberadaan kerajaan ini dibuktikan dengan banyaknya penemuan batu-batu prasasti pada wilayah Jakarta dan Bogor. Bukti tersebut menyebutkan mengenai sebuah kerajaan Hindu yang bernama Tarumanagara yang diperintah oleh raja yang bernama Purnavarman. Teks tersebut berangka tahun pada pertengahan abad ke 5. Kekuasaan Raja Purnavarman meliputi Sungai Citarum sampai Selat Sunda. Adapun ibukota Tarumanagara sendiri berada diantara Tugu dan Bekasi.
Raja Purnavarman juga memerintahkan untuk membangun sebuah kanal irigasi. Selain itu juga terdapat prasati yang mencetak telapak kaki dari Purnavarman yang diibaratkan sebagai kaki dewa Wisnu, prasasti ini mirip dengan prasasti yng pernah dikeluarkan oleh Raja Gunavarman dari Funan..Hal itu dilakukan sebagai salah satu bukti, bahwa Purnavarman menjadi raja pada masa itu adalah penganut penyembah Wisnu yang taat.
Penemuan bukti-bukti mengenai kerajaan Tarumanagara di sepanjang pantai utara Jawa-Bali mengindikasikan bahwa sudah banyak terjadi aktivitas perdagangan disana sebelum Agama Hindu menebarkan pengaruhnya. Perdagangan melalui Laut Jawa sangatlah penting untuk melakukan jaringan perdagangan dengan Cina dan India.
Kerajaan ini mengirim utusan pertamanya ke China pada 528 M dan selanjutnya pada 666 M dan yang terakhir pada 669 M. Pada abad ke 7 M kerajaan tersebut mengalami kehancuran, hal ini dimungkinkan karena serangan Kerajaan Srivijaya.
Holing ( Chopo )
Kerajaan ini ibukotanya bernama Chopo ( nama China ), menurut bukti- bukti China pada abad 5 M. Mengenai letak Kerajaan Holing secara pastinya belum dapat ditentukan. Ada beberapa argumen mengenai letak kerajaan ini, ada yang menyebutkan bahwa negara ini terletak di Semenanjung Malay, di Jawa barat, dan di Jawa Tengah. Tetapi letak yang paling mungkin ada di daerah antara pekalongan dan Plawanagn di Jawa tengah. Hal ini berdasarkan catatan perjalanan dari Cina
Kerajaan Holing adalah kerajaan yang terpengaruh oleh ajaran agama Budha. Sehingga Holing menjadi pusat pendidikan agama Budha. Holing sendiri memiliki seorang pendeta yang terkenal bernama Janabadra. Sebgai pusat pendidikan Budha, menyebabkan seorang pendeta Budha dari Cina, menuntut ilmu di Holing. Pendeta itu bernama Hou ei- Ning ke Holing, ia ke Holing untuk menerjemahkan kitab Hinayana dari bahasa sansekerta ke bahasa cina pada 664-665.
Sistem Administrasi kerajaan ini belum diketahui secara pasti. Tapi beberapa bukti menunjukkan bahwa pada tahun 674-675, kerajaan ini diperintah oleh seoarang raja wanita yang bernama Simo.
Holing sendiri banyak ditemukan barang-barang yang bercirikan kebudayaan Dong-Song dan India. Hal ini menunjukkan adanya pola jaringan yang sudah terbentuk antar Holing dengan bangsa luar. Wilayah perdaganganya meliputi laut China Selatan sampai pantai utara Bali. Tetapi perkembangan selanjutnya sistem perdagangan Holing mendapat tantangan dari Srivijaya, yang pada akhirnya perdagangan dikuasi oleh Srivijaya. Sehingga Srivijaya menjadi kerajaan yang menguasai perdagangan pada pertengahan abad ke-8.
Sistem Pemerintahan Kerajaan- Kerajaan Hindu Pertama
Perkembangan Kerajaan- kerajaan Hindu di Kepulauan Indonesia dan Malaysia tidak lepas dari proses adaptasi selektif kebudayaan India yang disesuaikan dengan pola atau tradisi lokal atau disebut sebgai local genius oleh para pemimpin Austronesia dengan dukungan sistem perdagangan maritim yang kuat. Konsep kerajaan menurut tradisi Hindu yaitu sebuah alam-semesta kecil yang berupa mandala yang dipimpin oleh raja dan dikelilingi oleh kekuatan konsentris yang terdiri dari para pendeta, pemerintah, bangsawan, tentara, dan rakyat jelata. Masing-masing mandala mewakili area kekuasaan inti sang tuan tanah.
Konsep kerajaan tersebut dapat juga berupa kerajaan-kerajaan yang dibawahi atau tunduk pada seorang tuan tanah besar atau maharaja. Dan konsekuensi dari konsep diatas adalah bahwa kerajaan-kerajaan bawahan harus membayar upeti kepada sang maharaja secara berkala. Tetapi walaupun begitu penguasa kerajaan bawahan tersebut mempunyai kekuasaan murni terhadap kerajaan yang diperintahnya. Menurut Coedes adalah bahwa kerajaan- kerajaan Hindu memiliki kebudayaan yang terorganisasi berdasarkan konsep agama Hindu dan menganut kepercayaan Hindu Budha, dan bersamaan dengan mitologi puranas, ketaatan pada Dharmasastra dan penggunaan bahasa sansekerta sebagai alat komunikasi bagi golongan penguasa.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa kerajaan- kerajaan pertama tersebut menggunakan struktur pemerintahan yang dibentuk oleh Arthasastra (pakta pemerintahan). Artasastra sendiri adalah pedoman bagi para pemimpin dimana sebuah pemerintahan yang baik harus mengandung tujuh kaki dasar, unsur tersebut diantaranya; Raja, Menteri, Kerajaan, Benteng, Perbendaharaan, Tentara, dan sekutu. Arthasastra juga mengatur mengenai hubungan kerajaan dengan kerajaan lain, penegakan hukum, dan penyelesaian perbedaan pendapat. Ajaran ini juga menyebutkan mengenai seorang pendeta Brahmana yang fungsinya sebagai penasihat raja dan pemuka keagamaan serta pendidik militer. Hal ini tidak lepas dari pendidikan dan pengetahuan yang dimiliki oleh para brahmana tersebut diantaranya ilmu sosial, pengobatan, matematika, arsitektur, dan persenjataan.
Raja dalam hal ini haruslah memiliki sikap yang fleksibel terhadap posisi dan tanggung jawab para pengikutnya. Raja sebgai sebuah jabatan yang sangat sulit untuk diemban, raja harus mampu menjadi seorang penengah dan juru damai bagi orang-orang bertikai, menghargai kesetiaan bawahan, dan selalu berusaha untuk menjaga kesatuan negaranya. Karena tugas yang sangat berat inilah raja memerlukan brahmana untuk membantu mengurusi pegawai pemerintah. Brahmana-brahmana yang datang ke dalam istana tidak semata untuk memberikan siraman rohani, namun mereka diberi tugas untuk mendidik pegawai pemerintah. Didikan terhadap pegawai pemerintah ini diharapkan agar pegawai pemerintah dapat meningkatkan sisitem manajeman dan kemakmuran di setiap bidangnya. Brahmana juga memiliki kemampuan yang berbeda-beda, menurut kemempuannya, guna mendidik para pegawai pemerintah.
Perekonomian kerajaan-kerajaan hindu awal umumnya bertumpu pada perdagangan internasional, sehingga fungsi terpenting dari pemerintahan mereka berkaitan dengan bandar- bandar, armada yang dimiliki, pajak, keadilan, dan pertanahan mereka. Selain berbasis pada perdagangan, perekonomian, terutama di Jawa bertumpu pada pertanian. Hal ini tidak lepas dari perkembangan sistem feodalisme yang masih melekat pada jiwa masyarakat Hindu-Budha pada masa itu. Karena faktor itulah banyak para penguasa-penguasa kerajaan tersebut memberikan perintah untuk membuat kanal- kanal saluran irigasi seperti disebutkan dalam prasasti Tugu.
Dengan bertambahnya populasi penduduk dan peningkatan standar pendidikanyang dipegang oleh kaum Brahmana, secar berlahan muncullah sistem birokrasi, yang tersusunn atas: hierarki abdi kerajaan, bangsawan adan tuan tanah, struktur lokal pada tingakt desa.
Abdi kerajaan ini sebagai penasihat raja, dan mediator antara orang jelata dengan para bangsawan atau pejabat istana.
Para tuan tanah disamping memperoleh pendapatan dari desa yang tanahnya merupakan daerah kekuasaanya juga memiliki kewajiban untuk menajalankan setiap peraturan kerajaan dan mengamankan hasil bumi, pajak, dan upeti yang sangat penting untuk mendukung kerajaan dan pemerintahan didalamnya.
Dewan lokal ini diangkat oleh para tetua desa yang biasanya mengikuti aturan yang ditetapkan oleh tradisi lokal yang disebut sebagai adat. Saran dan nasehat mereka dipertangungjawabkan didepan para bangsawan pada komunitas desa itu.
Keamanan kerajaan tersebut dipercayakan kepada pasukan non-permanen yang profesional yang biasanya merupakan tentara bayaran yang biasanya direkrut dari para pengikut bangsawan dan raja.

Kesimpulan Munculnya Kerajaan Awal
Kerajaan mulai muncul di Asia Tenggara sekitar abad ke-1 M. Ketika kerajaan Romawi melakukan hubungan perdagangan dengan Cina.Jalur yang sering sebagai jalur perdagangan disebut sebagai jalur sutera, namunjalur itu akan diubah melalui jalur laut, karena adanya ketidakamanan bila melalui jalur sutera. Selain berdagang dengan Cian, Asia Tenggara juga telahberdagang dengan India antra abad ke-1 hingga abad ke-3 M. Perdagangan melalui jalur laut inilah lebih sering dilakukan denagn India daripada denagn Cina. Sehingga pengaruh India diadopsi oleh orang-orang di Asia Tenggara, tanpa meninggalkan kebudayaan yang telah ada.
Contohnya Fuann yang telah banyak mengambil manfaat dari jalur perdagangan antara Cina dan India. Antara abad ke-3 hingga abad ke-5 M terjalin hubungan yang harmonis antara Cina denagn negara-negara di Asia Tenggara. Funan telah berkembang denganjalinankerjasa itu, terutama pelabuhan dagang Funan yang terletak diantara pelabuhan Cina dan pelabuhan di semenjung Malay.
Antara abad ke-5 hingga abad ke-6 M, merupakan zaman keemasan perdaganagnmelalui jalur laut. Laut Cian Selatan dan daerah semenjung Malay menjadi urat nadi perdagangan. Adanya kontak perekonomian antara Cina dan Asia Tenggara, masuknya produk Asia Tenggara ke pasar Cina terutama. Namun hal itu tidak dapat dilakukan ketika Funan mengalami keruntuhan, akibat seranagn dari Khmer. Perdagangan ini akan kembali lancar ketika Cian diperintah oleh dinasty Sui.
Pada abad ke-7 hingga ke-8, ketika terajdinya kekacauan di Khmer, perdagangn dapat dilakuakn oleh bangsa Cina setiap bangsa manapun. Menyebabkan perdagangan menjadi lebih maju, terutama di bagian Asia Tenggara kepulauan.

Banten Girang-Gerbang Kerajaan Banten

Nuansa Islam dalam budaya Banten nampaknya cukup kuat hingga saat ini. Terbukti dengan hadirnya para ulama, pesantren dan qari-qariah, yang tersebar di seluruh pelosok Banten.Budaya Banten bisa diidentifikasi dengan menelusuri, baik produk-produk kesusasteraan seperti naskah-naskah, babad, atau buku-buku keagamaan, berbagai cerita rakyat (folklore) yang masih hidup dalam ingatan masyarakat, yang dituturkan oleh kelompok sub etnik Banten, maupun warisan budaya material dalam pengertian yang luas. Kategori yang disebut terakhir ini terlihat pada karya-karya arsitektur, teknologi, kesenian dan sebagainya.

Banten sebenarnya merupakan toponim yang memiliki aspek ruang, dan secara geografis masih sering dikaitkan dengan bekas Karisidenan Banten, meliputi Kabupaten Serang, Pandeglang, Lebak, Tangerang dan Kotamadya Tangerang. Selain itu, toponim Banten juga memiliki kaitan dengan Banten Girang, Banten Lama dan Banten Hilir. Berdasarkan naskah-naskah yang ada, diduga kuat bahwa toponim Banten Baru muncul pada akhir abad ke-15 M. Hal ini berdasarkan fakta bahwa toponim Banten tidak dicantumkan dalam naskah yang lebih tua, seperti Babad Nagarakartagama (1345 M). Bahkan, dalam naskah Pujangga Manik (Pajajaran), yang berasal dari awal abad ke-16, nama toponim Banten belum dimuat.

Kajian Suwedi Montana, misalnya, menunjukkan bahwa nama Banten, atau yang dapat ditafsirkan sebagai Banten, tampak dari sejumlah historiografi lokal, seperti Cina Parahyangan yang menyebut istilah "Wahanten Girang", prasasti Kaban-tenan menyebut nama "Bantam", dan Purwaka Caruban Nagari yang memuat istilah "Kawungaten". Selain itu, catatan Tome Pires (1512-1515) menyebut "Bantam" sebagai salah satu pelabuhan penting Kerajaan Sunda, di samping "Pongdam" (Pontang), "Cheguide" (Cigading), "Tamgaram" (Tangerang), "Calapa" (Sunda Kelapa) dan "Chemano" (Cimanuk). Pada abad 16-18 Banten kemudian berkembang menjadi label wilayah politik dan nama Kesultanan yang bercorak Islam.

Dilihat dari segi demografi, Banten menunjukkan adanya dua kelompok etnisitas, yaitu: (1) sub etnik Banten Pesisiran yang membentang sepanjang pesisir utara Jawa Barat, mulai dari daerah Tangerang di sebelah utara, yang berbatasan dengan sub etnik Betawi, sampai Anyer-Cilegon di sebelah selatan barat; (2) sub etnik Banten-Sunda yang wilayah huniannya mulai dari Serang Selatan (Banten Girang) sampai ke pedalaman selatan berbatasan dengan Samudera India.

Tidak banyak yang diketahui mengenai sejarah dari bagian terbarat pulau Jawa ini, terutama pada masa sebelum masuknya Islam. Keberadaanya sedikit dihubungkan dengan masa kejayaan maritim Kerajaan Sriwijaya, yang menguasai Selat Sunda, yang menghubungkan pulau Jawa dan Sumatera. Dan juga dikaitkan dengan keberadaan Kerajaan Sunda Pajajaran, yang berdiri pada abad ke 14 dengan ibukotanya Pakuan yang berlokasi di dekat kota Bogor sekarang ini. Berdasarkan catatan, Kerajaan ini mempunyai dua pelabuhan utama, Pelabuhan Kalapa, yang sekarang dikenal sebagai Jakarta, dan Pelabuhan Banten.

Dari beberapa data mengenai Banten yang tersisa, dapat diketahui, lokasi awal dari Banten tidak berada di pesisir pantai, melainkan sekitar 10 Kilometer masuk ke daratan, di tepi sungai Cibanten, di bagian selatan dari Kota Serang sekarang ini. Wilayah ini dikenal dengan nama “Banten Girang” atau Banten di atas sungai, nama ini diberikan berdasarkan posisi geografisnya. Kemungkinan besar, kurangnya dokumentasi mengenai Banten, dikarenakan posisi Banten sebagai pelabuhan yang penting dan strategis di Nusantara, baru berlangsung setelah masuknya Dinasti Islam di permulaan abad ke 16.


Penelitian yang dilakukan di lokasi Banten Girang di tahun 1988 pada program Ekskavasi Franco – Indonesia, berhasil menemukan titik terang akan sejarah Banten. Walaupun dengan keterbatasan penelitian, namun banyak bukti baru yang ditemukan. Sekaligus dapat dipastikan bahwa keberadaan Banten ternyata jauh lebih awal dari perkiraan semula dengan ditemukannya bukti baru bahwa Banten sudah ada di awal abad ke 11 – 12 Masehi. Banten pada masa itu sudah merupakan kawasan pemukiman yang penting yang ditandai dengan telah dikelilingi oleh benteng pertahanan dan didukung oleh berbagai pengrajin mulai dari pembuat kain, keramik, pengrajin besi, tembaga, perhiasan emas dan manik manik kaca. Mata uang logam (koin) sudah digunakan sebagai alat pembayaran, dan hubungan internasional sudah terjalin dengan China, Semenanjung Indochina, dan beberapa kawasan di India.

Secara nyata, tidak ada keputusan final yang dapat diambil sebelum penelitian dilakukan lebih lanjut, tapi dapat dipastikan bahwa keberadaan Banten sudah berlangsung sangat lama dan teori bahwa keberadaannya dimulai pada saat terbentuknya Kerajaan Islam di Banten, tidak lagi dapat dipertahankan. Bangsa Portugis telah mendokumentasikan keberadaan Banten dan sekitarnya pada awal abad ke 16, kurang lebih 15 tahun sebelum Kerajaan Islam Banten terbentuk.

Setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, bangsa Portugis memulai perdagangan dengan bangsa Sunda. Ketertarikan utama mereka adalah pada Lada yang banyak terdapat di kedua sisi Selat Sunda. Bangsa Cina juga sangat berminat pada jenis rempah rempah ini, dan kapal Jung mereka telah berlayar ke pelabuhan Sunda setiap tahunnya untuk membeli lada. Walaupun Kerajaan Pajajaran masih berdiri, namun kekuasaannya mulai menyusut. Kelemahan ini tidak luput dari perhatian Kerajaan Islam Demak. Beberapa dekade sebelumnya Kerajaan Demak telah menguasai bagian timur pulau Jawa dan pada saat itu bermaksud untuk juga menguasai pelabuhan Sunda. Masyarakat Sunda, memandang serius ekspansi Islam, melihat makin berkembangnya komunitas ulama dan pedagang Islam yang semakin memiliki peranan penting di kota pelabuhan “Hindu”.

Menghadapi ancaman ini, Otoritas Banten, baik atas inisiatifnya sendiri maupun atas seizin Pakuan, memohon kepada bangsa Portugis di Malaka, yang telah berulangkali datang berniaga ke Banten. Di mata otoritas Banten, bangsa Portugis menawarkan perlindungan ganda; bangsa Portugis sangat anti Islam, dan armada lautnya sangat kuat dan menguasai perairan di sekitar Banten. Banten, di sisi lain, dapat menawarkan komoditas lada bagi Portugis. Negosiasi ini di mulai tahun 1521 Masehi.

Tahun 1522 Masehi, Portugis di Malaka, yang sadar akan pentingnya urusan ini, mengirim utusan ke Banten, yang dipimpin oleh Henrique Leme. Perjanjian dibuat antara kedua belah pihak, sebagai ganti dari perlindungan yang diberikan, Portugis akan diberikan akses tak terbatas untuk persediaan lada, dan diperkenankan untuk membangun benteng di pesisir dekat Tangerang. Kemurah hatian yang sangat tinggi ini menggaris bawahi tingginya tingkat kesulitan yang dihadapi Banten. Pemilihan pembuatan benteng di daerah Tangerang tidak diragukan lagi untuk dua alasan : yang pertama, agar Portugis dapat menahan kapal yang berlayar dari Demak, dan yang kedua untuk menahan agar armada Portugis yang sangat kuat pada saat itu, tidak terlalu dekat dengan kota Banten. Aplikasi dari perjanjian ini adalah adanya kesepakatan kekuasaan yang tak terbatas bagi Portugis. Lima tahun yang panjang berlalu, sebelum akhirnya armada Portugis tiba di pesisir Banten, di bawah pimpinan Francisco de Sá, yang bertanggungjawab akan pembangunan benteng.

Sementara itu, situasi politik telah sangat berubah dan sehingga armada Portugis gagal untuk merapat ke daratan. Seorang ulama yang sekarang dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati, penduduk asli Pasai, bagian utara Sumatera setelah tinggal beberapa lama di Mekah dan Demak, pada saat itu telah menetap di Banten Girang, dengan tujuan utama untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Walaupun pada awalnya kedatangannya diterima dengan baik oleh pihak otoriti, akan tetapi Ia tetap meminta Demak mengirimkan pasukan untuk menguasai Banten ketika Ia menilai waktunya tepat. Dan adalah puteranya, Hasanudin, yang memimpin operasi militer di Banten. Islam mengambil alih kekuasaan pada tahun 1527 M bertepatan dengan datangnya armada Portugis. Sadar akan adanya perjanjian antara Portugis dengan penguasa sebelumnya, Islam mencegah siapapun untuk merapat ke Banten. Kelihatannya Kaum Muslim menguasai secara serempak kedua pelabuhan utama Sunda, yaitu Kalapa dan Banten, penguasaan yang tidak lagi dapat ditolak oleh Pakuan.

Sebagaimana telah sebelumnya dilakukan di Jawa Tengah, Kaum Muslim, sekarang merupakan kelas sosial baru, yang memegang kekuasaan politik di Banten, dimana sebelumnya juga telah memegang kekuasaan ekonomi. Putera Sunan Gunung Jati, Hasanudin dinobatkan sebagai Sultan Banten oleh Sultan Demak, yang juga menikahkan adiknya dengan Hasanudin. Dengan itu, sebuah dinasti baru telah terbentuk pada saat yang sama kerajaan yang baru didirikan. Dan Banten dipilih sebagai ibukota Kerajaan baru tersebut.

Masyarakat dan budaya Banten, terutama dengan alam dan budaya Islamnya, mungkin hanya dapat dikenali dengan merunut kembali peristiwa sejarah transformasi pusat administrative politik dari Banten Girang di pedalaman - yang berada di bawah subordinasi Pakuan Pajajaran yang Hinduistik ke daerah pantai yang sekarang dikenal dengan Banten Lama. Peristiwa transformasi tersebut berlangsung pada tahun 1526 oleh Syarif Hidayatullah dan Maulana Hasanuddin. Sejak itu embrio dan fondasi masyarakat dan budaya Banten diletakkan dan ditetapkan dalam format yang berciri keislaman. Prof. Dr. Hasan Muarif Ambari, Kepala Pusat Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas, Depdikbud Rl) yang juga staf peneliti pada Pusat Pengkaian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta ini, dalam bukunya "Menemukan Peradaban, Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia" (penerbit Logos) memperlihatkan fase-fase pertumbuhan perkembangan budaya Banten dalam panggung sejarah, dirunut dalam fase-fase berikut:

(1). Fase Pra-Sunda Islam (1400-1525). Pada masa itu Banten merupakan daerah bawahan kerajaan Pakuan Pajajaran yang Hinduistis, yang berpusat di Banten Girang (Kota Serang sekarang).

(2). Fase awal Penyebaran Islam (1525-1619), suatu fase di mana Islam disiarkan oleh Sunan Gunung Jati dari Cirebon dan Maulana Hasanuddin yang beraliansi dengan Demak. Pada masa ini terjadi transformasi keagamaan, perpindahan pusat pemerintahan dan mulai berkembangnya Banten sebagai pelabuhan - alternatif setelah Malaka.
Pendirian kota Banten Sorasowan, dengan komponen-komponen arsitektur dan monumental berciri Islam, telah menyebabkan pertumbuhan dan ramainya perdagangan. Para pedagang Inggris, Denmark, Portugis, dan Turki datang melakukan transaksi perdagangan di Bandar Banten. Sebelumnya, Banten telah berhubungan dengan Cina, sehingga etnis terakhir ini telah membentuk satu komunitas tersendiri yang memberi sumbangan besar bagi perkembangan perdagangan di Banten.

(3). Fase Keseimbangan Kekuatan, yakni satu fase tanpa adidaya di mana seluruh kekuatan politik dan ekonomi yang ada di Banten memiliki kekuatan yang seimbang (armada dagang Eropa, Ke-sultanan Banten, Cirebon, Batavia dan Mataram). Keseimbangan kekuatan ini di antaranya bisa dilihat dari beberapa peristiwa politik yang berlangsung saat itu, yang tidak memperlihatkan adanya do-minasi satu kekuatan politik tertentu terhadap kekuatan politik lain: yakni penyerangan Banten ke Batavia, blokade Belanda atas Teluk Banten, tumbuh dan kuatnya kekuasaan Sultan Ageng Tirta-yasa, dan pilihnya tingkat kemakmuran masyarakat Banten. Pada fase inilah, Banten mencapai puncak ketinggian budaya (tamaddun Islam).

(4). Fase Penguasaan (VOC) Belanda, pendirian Benteng Speelwik yang langsung atau tidak langsung memperlihatkan wujud hubungan antara Banten dan VOC, masih berkembangnya "kota" Surosowan dan lain-lain.

(5). Fase Surut dan Jatuhnya Kesultanan Banten. Hindia Belanda terkena imbas perang Napoleonik/Rep. Batavia, interval penguasaan Inggris (1811-1816), pemindahan administrasi politik ke Serang Surosowan dihancurkan, didirikannya Keraton Kaibon dan dipecahnya bekas wilayah Kesultanan Banten menjadi tiga daerah setara Kabupaten (Banten Hulu, Banten Hilir, dan Anyer) di bawah pengawasan landraad (setara residen), pada tahun 1809 pembuatan jalan raya Daendells.

(6). Fase Mutakhir. Setelah Kesultanan Banten dihapuskan oleh Belanda timbul berbagai pergolakan, pemberontakan dan perlawanan rakyat dipimpin oleh para ulama/bangsawan, bencana alam (meletusnya Krakatau dan wabah penyakit sampar), pendudukan Jepang, perang kemerdekaan, dan sampai sekarang memasuki masa pembangunan.

Di balik semua kilas balik sejarah ini, hal yang tetap hidup dan terus mengakar pada masyarakat Banten adalah kultur Islam. Pesantren terus menerus menghasilkan kader dan para ulama tetap berdakwah. Rakyat mulai mengarahkan orientasi kepemimpinan dari raja/sultan kepada para ulama/mubaligh/kiyai. Dalam situasi seperti ini, yang bermula sejak pertumbuhan Islam di Banten, budaya pesisiran dan budaya pedalaman di daerah selatan Banten (kecuali daerah Baduy) terus menerus memantapkan keislamannya. Oleh karena itu, dari segi budaya Banten dapat disetarakan dengan masyarakat kota seperti Mataram dan Cirebon.



Sumber Data :
1. Ayatrohaedi, 1980, Masyarakat Sunda Sebelum Islam
2. Djajadiningrat,P.A. Hoesein, 1983, Tinjauan Kritis tentang Sedjarah Banten
3. Halwany Michrob, 1981, Pemugaran dan Penelitian Arkeologi Sebagai Sumer Data Bagi Perkembangan Sejarah Kerajaan Islam Banten 1982, Sejarah Masuknya Islam Ke Banten
4. Halwany Michrob & Mujahid, 1993, Catatan Masalalu Banten, Percetakakan Saudara
5. Hamka, 1967, Sejarah Umat Islam Jilid III
6. Hasan M. Ambary, 1981, Mencari Jejak Kerajaan Islam Tertua di Indonesia

13 Oktober 2011

Kerajaan Champa-Vietnam

Kerajaan Champa didirikan di Vietnam oleh orang-orang Cham yang secara etnis tidak mempunyai hubungan dengan orang-orang Vietnam. Ketika kerajaan Funan yang berada sebelah selatan Champa dipengaruhi oleh Cina, kerajaan Champa selama 1600 tahun juga mendapatkan pengaruh dari Cina.
Akibat dari hal itu, Champa harus mengimbangi kekuatan di antara dua negara tetangganya dalam hal jumlah penduduknya dan pola militer : Vietnam di utara dan Khmer (Kamboja) di selatan. Seperti Funan, kerajaan Champa menerapkan kekuatan perdagangan pelayaran laut yang berlaku hanya di wilayah yang kecil.
Pertengahan abad VIII merupakan waktu yang kritis bagi Champa, seperti Kamboja, Champa harus bertahan atas sejumlah serangan dari Jawa. Tetapi bahaya Jawa segera berlalu pada awal abad IX karena Champa sendiri juga melakukan serangan-serangan. Dibawah Hariwarman I, Champa menyerang propinsi-propinsi Cina sebelah utara dengan mendapat kemenangan. Champa juga melakukan penyerangan ke Kamboja dibawah pimpinan Jayawarman II, yaitu pendiri dinasti Angkor. Serangan tersebut dibalas oleh Indrawarman II.
Di bawah Indrawarman II (854-893), didirikan ibu kota Indrapura di propinsi Quang Nam. Ia memperbaiki hubungan baik dengan Cina. Pemerintahannya merupakan pemerintahan yang damai, terutama dengan dengan dirikannya bangunan-bangunan besar Budha, sebuah tempat suci, yang reruntuhannya terdapat di Dong-duong, di sebelah tenggara Mison. Ini adalah bukti pertama adanya Budha Mahayana di Champa.
Indrawarman II mendirikan enam dinasti dalam sejarah Champa. Raja-rajanya lebih aktif daripada yang sebelumnya dalam perhatiannya pada kehidupan di negeri itu. Mereka bukan saja mendirikan tempat-tempat suci baru, tetapi juga melindungi bangunan-bangunan keagamaan itu dari para perampok dan memperbaikinya kembali jika rusak.
Selama pemerintahan pengganti Indrawarman, Jayasimhawarman I, hubungan dengan Jawa menjadi erat dan bersahabat. Seorang keluarga permaisurinya berziarah ke Jawa dan kembali dengan memegang jabatan tertinggi dengan sejumlah raja dibawahnya. Hubungan ini menjelaskan pengaruh Jawa pada kesenian Champa.
Selama abad X terjadi banyak peristiwa penting di Champa. Tahun 907 dinasti T’ang jatuh di Cina dan orang Annam mengambil kesempatan itu untuk maju dan mendirikan kerajaan Dai-co-viet (Annam dan Tong-King) tahun 939. Awalnya perubahan ini hanya berpengaruh sedikit pada Champa akan tetapi kemudian timbul keributan antara Champa dengan kerajaan-kerajaan baru itu. Kemudian Champa dikuasai dan mulai mencari pengakuan dari Cina. Tahun 988 terjadi pembalasan oleh Champa dibawah raja Vijaya (Binh-dinh). Setelah masa damai yang singkat, ia mendapat jaminan pengakuan dari Cina dan memperbaiki ibukota Indrapura.
Abad XI merupakan masa kehancuran Champa. Champa kehilangan propisinya karena direbut oleh Annam. Mereka mengirim misi ke Cina berturut-turut dan tahun 1030 bersekutu dengan Suryawarman I dari Angkor. Tahun 1044 Annam melakukan penyerangan besar-besaran terhadap Champa dan Champa mengalami kehancuran. Ibukota Vijaya direbut dan Raja Jayasimhawarman II dinaikan pangkatnya.
Dinasti VIII, didirikan oleh seorang pemimpin perang yang bergelar Parameswaraman I dan mulai menghidupkan kembali kerajaannya. Ia menekan pemberontakan di propinsi bagian selatan dan berusaha mengembangkan hubungan baik dengan kedua Annam dan Cina dengan sering-sering mengirim misi.
Seorang pangeran bernama Thang mendirikan dinasti IX. Beliau mengambil gelar Hariwarman IV dan segera memperlihatkan kekuasaannya dengan memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh penyerangan dan membangkitkan kesejahteraan negerinya. Kebangkitan Champa sangat cepat, setelah berhasil mengusir Annam dari Champa, selanjutnya menghancurkan serangan Khmer dan membalasnya dengan mengirim pasukan penyerang memasuki Kamboja.
Politik Hariwarman IV memelihara hubungan yang lebih baik dengan Annam. Sejak itu dengan sedikit keraguan kemudian ia bersekutu dengan Cina dan merencanakan penyerangan terhadap Annam. Ketika gagal, ia bertanggungjawab melindungi dari kemarahan orang Annam dengan mengirimkan tawaran perdamaian yaitu dengan memberi upeti kepada Annam secara teratur.
Khmer juga mulai menyerang Champa, bagian utara Champa telah berada dibawah kekuasaan Khmer. Tetapi di bagian selatan Panduranga, seorang raja baru, Jaya Hariwarman I, bangkit tahun 1147. Kemudian setelah mendesak keluar pasukan Khmer, ia terus menyerang dan mengembalikan Wijaya dan menyatukan kembali kerajaan.
Kesulitan Jaya Hariwarman I belum teratasi, tahun 1155 Panduranga mulai memberontak. Tetapi ia dapat memperbaiki kembali kerusakan-kerusakan karena perang dengan menggunakan sebagian barang jarahannya untuk memperbaiki candi-candi dan membangun yang baru. Beliau juga mengirim utusan ke Cina dan menenangkan Annam dengan membayar upeti secara teratur.
Ketika Jaya Hariwarman I mangkat, ia digantikan oleh seorang avontutir yang cerdik bernama Jaya Indrawarman IV yang telah merebut tahta dari putera Jaya Hariwarman I. Kemauannya yang besar ialah membalas dendam dengan menyerang Kamboja yang telah menyerang Champa oleh Suryawarman. Akan tetapi penyerangan tersebut gagal. Setelah melakukan persiapan lama, Jayawarman VII, pendiri Angkor Thom, melancarkan serangan besar-besaran terhadap Champa. Sekali lagi Champa jatuh ke tangan Kamboja. Suryawarman memutuskan untuk bersekutu dengan Kamboja.
Kemudian Khmer menyerang Champa lagi, dan Champa dikuasai oleh Khmer selama 17 tahun. Karena beberapa alasan yang tidak disebut dalam catatan, pasukan Khmer meninggalkan negeri itu dan memberikan kendali pemerintahannya secara sukarela. Banyak yang berpendapat mengenai sebab pengunduran Khmer secara tiba-tiba tersebut. Kesimpulan Maspero oleh Coedes, adalah bahwa tekanan T’ai atas kerajaan besar Khmer telah sedemikian keras hingga Angkor dipaksa meninggalkan cita-citanya menjadikan Champa sebagai daerah taklukannya.
Kemengan-kemenangan Mongol di Cina juga dianggap sebagai penyebab berhentinya perang antara Annam dan Champa. Dalam hal Champa, masalahnya sampai pada puncaknya ketika tahun 1281, yaitu saat kesabaran Kublai Khan telah habis dan beliau mengirim marsekal “Sogatu” untuk mendesak pemerintahan Mongol di negeri itu.
Seorang raja baru, Jaya Simhawarman III didesak untuk bersekutu dengan Annam. Tahun 1301 ia menerima kunjungan dari Tran Naon-Ton, yang telah menyerahkan dengan senang hati tahtanya kepada puteranya Tran Anh Ton, dan pura-pura mencari kebajikan dengan berziarah keliling tempat suci di negeri-negeri tetangganya. Ia menjanjikan pada raja Champ salah seorang putrinya untuk dijadikan istri raja Cham.
Dalam pertalian perkawinan itu, ia terbujuk untuk menyerahkan dua buah propinsi Cham di utara Col des Nuages sebagai nilai tukar penyerahan seorang saudara perempuan Tra Anh-Ton. Kemudian ketika pemerintahannya digantikan oleh putranya Che-Chi, putranya harus menanggung perbuatan bodohnya itu. Tahun 1312, Annam menyerbu Champa, menurunkan Jaya Simbhawarman IV dari tahtanya dan menggantinya dengan adiknya. Cue Nang.
Champa sekarang menjadi propinsi Annam yang rajanya diangkat sebagai “pangeran pembayar pajak kelas dua”. Tetapi Che Nang tetap setia kepada Champa dan tidak mau menyerahkan pada kekuasaan Annam. Ia memberontak dan berusaha mengembalikan dua propinsi yang telah diserahkan oleh ayahnya.
Che Anan ialah pendiri dinasti XII dalam sejarah Cham yang berkuasa sampai tahun 1390. Ini merupakan pembuka bagi kebangkitan Cham dengan mengambil manfaat atas berdirinya dinasti Ming di Cina. Dengan mulai serangkaian serangan-serangan yang sukses di Annam. Negeri itu tetap dalam keadaan teror terus menerus sampai tahun 1390, raja Cham terbunuh dalam perang di laut. Kemudian Champa kehilangan propinsi Indrapura (Quang Nam). Tahun 1441, pemerintahan Jaya Simhawarman V berakhir.
Di tahun 1471, tentara Vietnam Dinasti Le menaklukan kerajaan Champa. Sekitar 60.000 orang tentara Champa terbunuh, termasuk Raja Champa dan keluarganya dan sekitar 60.000 orang lainnya diculik untuk dijadikan budak. Kerajaan Champa diperkecil wilayahnya, yang sekarang dikenal dengan nama Nha Trang. Pada tahun 1720 terjadi serangan baru dari tentara Vietnam yang mengancam kerajaan Champa. Seluruh bangsa Cham beremigrasi ke arah barat daya, ke wilayah utara danau Tonle Sap yang sekarang merupakan Kamboja.
Dengan kejatuhan Vijaya pada 1471 maka keluasan Negara Champa semakin mengecil dan ibu negara Champa berpindah untuk kesekian kalinya. Kali ini jauh ke selatan ke Panduranga. Mengikut sejarah, semenjak perlantikan Po Tri Tri sebagai raja untuk keseluruh Champa dan dengan perpindahan beliau ke Panduranga untuk menubuhkan kerajaan yang baru, maka bermulalah perkembangan Islam secara besar-besaran di Champa. Bahasa Sanskrit yang selama ini menjadi bahasa rasmi Champa juga tidak digunakan lagi.
Semenjak era inilah Champa bertukar corak. Tidak pasti sama ada Champa terus menerus diperintah oleh raja Islam sehingga kejatuhannya ke Vietnam, akan tetapi berdasarkan kepada keunikan sistem pentadbiran yang diamalkan di Champa di mana terdapat berbagai kerajaan dalam satu wilayah pada masa yang sama, maka berkemungkinan bahwa ada raja-raja Islam yang memerintah Champa pada zaman tiga abad setelah kejatuhan Vijaya.
Keunikan sistem pemerintahan Champa adalah karena Champa terdiri dari persekutuan berbagai kaum yang dikenal majemuk sebagai ‘Urang Champa’. Selain kaum Cham sendiri, penduduknya juga terdiri dari berbagai kaum etnik daripada rumpun lain yang juga merupakan rumpun bahasa Austronesia yaitu puak bukit (hill tribes) yang terdiri daripada kaum-kaum Chru, Edê, Hroy, Jörai, Rhade (Koho), dan Raglai dan termasuk juga dari rumpun bahasa Austroasiatic seperti kaum Dera atau montanagards yang terdiri dari kaum-kaum Ma, Sré dan Stieng.
Meskipun terdapat raja, yang memerintah Champa secara keseluruhannya, terdapat juga raja-raja kecil misalnya Raja Bao Dai, yang menjadi raja untuk kaum etnik yang tertentu. Ini mempunyai persamaan dengan kaum Batak dan Mandiling di Indonesia, misalnya, yang mempunyai raja-raja mereka sendiri, tetapi semata-mata sebagai raja adat. Dalam mengkaji sejarah Champa mungkin pengkaji sejarah tidak memahami kedudukan raja pada kaum masing-masing dan hal ini telah menimbulkan kekeliruan di sebabkan dalam satu zaman yang sama akan terdapat rujukan kepada dua atau tiga raja yang berlainan nama. Dalam tradisi pemerintahan Champa, hanya raja yang mempunyai kekuatan tentara dan kekuasaan politik negara sebagai ‘Raja kepada Raja-raja (‘Rajatiraja’) Champa’ (“King of Kings of Champa”). Berdasarkan kepada manuskrip-manuskrip yang terdapat berkemungkinan besar setelah kejatuhan Vijaya, kekuasaan ini pernah dipegang oleh raja yang beragama Islam.
Kerajaan Champa merupakan kerajaan maritim sehingga pandai dalam pelayaran. Pelabuhan utama Champa ialah Phan Rang dan Nha Trang. Pelabuhan tersebut merupakan pemasok utama pendapatan kerajaan ini. Karena Quang Nam menawarkan pelabuhan yang lebih baik daripada pelabuhan yang lain, dimana kapal pedagang dari India, Sumatra, Jawa, dan Cina bisa mendapatkan persediaan air bersih di pelabuhan ini.