13 Oktober 2011

Kerajaan Angkor - Kamboja

AWAL BERDIRINYA KERAJAAN ANGKOR
A. ASAL MULA KERAJAAN ANGKOR

Karena tidak ada peninggalan tertulis, maka diperkirakan Angkor lahir dari dalam lingkungan Khmer sendiri, bukan karena Tchen-la diduduki secara militer. Dari sudutsejarah, faktor berdirinya Angkor diketahui berasal dari luar yaitu pengaruh dari Nusantara.
1. Sriwijaya dan Dinasti Sailendra
Dengan Sriwijaya memiliki hegemoni perdagangan seperti Fu-nan dan dapat menggantikannya dan berkat hal itu, dapat menguasai laut-laut selatan, mungkin karena hal tersebut Tchen-la terpaksa meninggalkan kekuasaan atas laut. Mulai perempat kedua abad-8 Masehi kekuasaan beralih ke Jawa Tengah dimana berkembang dinasti Syailendra yang kuat.
Raja-raja Sailendra menganggap dirinya keturunan langsung raja-raja Fu-nan, yang berlindung di Jawa setelah negeri mereka ditaklukkan oleh Tchen-la. Mereka mendapat julukan “Raja Gunung” dan menggunakan gelar Maharaja, karena menganggap diri sebagai penakluk dunia. Mereka menjatuhkan salah seorang raja terakhir dari kerajaan Tchen-la yang tengah memudar. Di negari itu mereka memiliki semacam kekuasaan, karena diakui oleh orang Khmer sendiri pada waktu pendirian Angkor.
2. Ekspansi Peradaban Jawa
Cemerlangnya kesenian Buddha zaman sailendra, hal itu mencerminkan perkembangan agama Budha Mahayana yang dimulai pada zaman dinasti Pala di India, dan disebarkan oleh orang Jawa dan Sumatera. Kesenian itu muncul di Semenanjung Malaya dalam bentuk arca gaya Sriwijaya. Menjelang pertengahan abad ke-8 M, ada dua torso Awalokiteswara yang luar biasa bagusnya yang ditemukan di Chaiya. Karya-karya ini, walaupun menunjukkan pengaruh kesenian Jawa, memperlihatkan juga pengaruh kesenian pala yang jelas sekali. Kemungkinan besar patung-patung ini dikenal oleh seniman-seniman Angkor yang pertama. Ritus kerajaan sailendra dan unsur-unsur Hindu tradisional yang tersembunyi di Jawa Timur, gelar “Raja Gunung”, pemujaan raja-raja yang telah meninggal dan pemujaan kepada lingga sebagai symbol kekuasaan, semua itu merupakan salah satu asal-usul dari institusi-institusi kerajaan Angkor.
B. RAJA MASA AWAL KERAJAAN ANGKOR
1. JAYAVARMAN II

Pengaruh secara langsung dialami oleh Jayavarman II yang pernah hidup di jawa. Raja itu mempunyai hubungan keluarga agak jauh dengan dinasti-dinasti Kamboja yang terdahulu. Ia tinggal di istana dinasti Sailendra, ia pulang ke kamboja menjelang tahun 790 M.
Raja baru itu mulai mempersatukan wilayah Tchen-la yang terpecah-pecah. Tahapan penaklukannya mengambil wujud sebanyak ibu kota yang didirikannya: mula-mula Indrapura, disebelah timur Kompong Cham lalu menuju propinsi-propinsi sebelah utara danau-dana, yang kelak akan menjadi pusat kekuasaannya. Pada tahun 802 M, ia membangun Mahendraparvata, di Phnom Ku-len, sekitar 30 km sebelah timir laut Angkor.
Tempat itu dipilih dengan pertimbangan khusus. Pada dasarnya wilayah itu tidak layak huni, dan dengan cepat akan ditinggalkan, hal ini bersifat simbolis agar Ia menjadi “Raja Gunung” dan penguasa universal, Jayawarman II telah memilih begitu saja sebuah gunung yang mirip Gunung Meru, tempat bersemayam para dewa disekitar Indra, raja mereka. Secara khusus ia mendatangkan seorang pendeta brahmana untuk membacakan teks-teks suci dan membangun lingga dewa maha mulia. Lingga tersebut, merupakan sumber kekuasaan dan tempat tinggal jiwa sang raja, kelak menjadi lambang kerajaan Khmer. Dengan tindakannya tersebut menjadikan kambuja tidak lagi bergantung pada Jawa dan tinggal hanya seorang penguasa yang universal. Setelah itu Jayavarman II tetap di Roluos dan meninggal di situ pada tahun 850 M. putranya Jayavarman III menggantikannya dan menetap disitu sampai tahun 877 M.
Ternyata bahwa Jayavarman II benar-benar pendiri kekuasaan Angkor, dan bukan hanya dari segi politik saja, tetapi juga dari segi Keagamaan. Pemerintahan Jayavarman II yang diperkuat oleh pemerintahan anaknya, telah mengubah sama sekali jalannya evolusi Kerajaan Khmer. Negeri itu menyatu lagi di bawah kekuasaan tunggal, yang kokoh, dan tak tertandingi.
2. INDRAVARMAN
Pengganti kedua pendiri Angkor Indravarman (877-889 M) berjasa membina dasar yang kokoh untuk kekuasaan Ankor, baik dalam bidang politik maupun sosial dan ekonomi. Otoritasnya diakui sampai ke Cochin-Cina, sampai ke U-Bon di Siam, bahkan mungkin ke Champa. Selaku penganut ajaran Siwa yang kuat, ia berusaha mengembangkan pemujaan kepada raja yang telah meninggal, yang dimulai oleh Jayawarman II, yang mungkin atas pengaruh Jawa.
3. YASOVARMAN
Yasovarman, putra Indravarman menggantikannya pada tahun 889M. Dari ibunya, ia adalah keturunan keluarga kerajaan Fu-nan yang palin tua. Gurunya seorang Brahmana, anggota keluarga pendeta yang ditugasi Jayavarman II untuk mengurus pemujaan lingga kerajaan. Sebagai putra Indravarman, dan pewaris raja-raja universal Fu-nan,serta pengikut gagasan-gagasan Jayavarman II, dalam dirinya terkumpul semua kelebihan-kelebihan yang telah membawa kepada kelahiran Angkor.

PERKEMBANGAN KERAJAAN ANGKOR
A. HEGEMONI KHMER
1. KOH KER

Harshavarman I, saudara kandung Yasovarman, menggantikannya pada tahun 900 M dan memerintah sampai sekitar tahun 921 M. Sejak tahun 921 M, pamannya Jayavarman IV, memberontak dan membangun sebuah ibukota baru di Chok Gargyar sekarang Koh Ker sekitar 70 km disebelah timur laut Angkor.
Seperti para pendahulunya, Jayavarman IV adalah seorang pengagum Siwa. Di ibu kotanya yang baru ia membangun sebuah lingga suci, suatu pengulangan tindakan Jayavarman II yang membangun Angkor, mungkin dengan tujuan sama yakni merayakan keberhasilannya merebut kekeuasaan. Ia wafat pada tahun 941 M dan putranya tetap memerintah di Koh Ker samapi tahu 941 M.
2. KEMBALI KE ANGKOR
Rajendravarman (944-968 M), kemenakan si perampas kuasa dan juga Yasovarman, kembali ke kota itu begitu ia naik tahta. Kepulangan itu lebih bermakna lagi karena raja baru itu, menurut garis keturunan ibu, adalah pangeran penguasa di pusat bekas Tchen-la itu. Dengan pilihannya itu menandai putusnya hubungan dengan tanah asal orang kambuja dan pemindahan secara permanen ke dataran rendah orang-orang khmer beserta penguasa atas seluruh wilayah selatan Indocina. Untuk menebus kepergiannya, menurut tradisi dari zaman Indravarman, ketika baru saja tiba kembali di Angkor, rajendravarman mempersembahkan Candi Mebon (tahun 974-952 M) kepada nenek moyang keluarga kerajaan.
Dalam bidang politik, rajendravarman memperluas kekeuasaannya samapi ke Champa dan pada tahun 945-956 M, pasukannya mengobrak-abrik Po Nagar di Nha-trang. Putranya Jayavarman V menggantikannya pada tahun 968 M dan memerintah sampai 1001 M. Ia melanjutkan politik ayahnya terutama memperkokoh kekuasaan Khmer atas wilayah Champa.
3. DINASTI SURYA (kebesaran surya)
Tahun-tahun pertamaabad ke-11 M, sebuah dinasti baru merebut kekuasaan. Suryavarman I, keturunan “Bangsa Surya” dari kambuja, tampaknya perampas kekuasaanyang menaklukkan Angkor dengan kekuatan senjata. Setelah mengalahkan kedua pengganti Jayavarman V yang masa pemerintahannya tidak lama, ia menetap di ibu kota menjelang tahun 1011 M.
Suryavarman I memiliki sifat-sifat Khmer yang sama seperti para pendahulunya. Satu-satunya perubahan yang berarti dalam masa pemerintahannya ialah pembukaan pintu selebar-lebarnya bagi agama Buddha. Secara pribadi raja beragama Siwa dan melanjutkan kultus raja yang sudah diterapkan raja-raja pendahulunya. Suryavarman I memerintah sampai tahun 1050 M. Untuk kerajaan Khmer ia telah mencaplok seluruh wilayah selatan Siam, dari Lopburu samapi Ligor, dan mungkin sebagian besar Laos selatan, mungkin meluas sampai ke Luang Prabang.
Putranya, Udayadityavarman II, menggantikanya dan hidup sampai tahun 1066 M. Walaupun masa pemerintahannya sangat pendek, dan selalu dirusuhkan oleh pemberontak-pemberontak di semua propinsi kerajaannya yang luas, ia masih memperluas kekuasaannya dan mungkin sempat mengalami puncak kekuasaan tertinggi yang pernah di capai oleh seorang raja Khmer.
Udayadityavarman II adlah penganut agama Siwayang melaksanakan ibadah secaraa ketat, walaupun ia condong memuja wisnu. Bahkan pada masa pemerintahannya ditandai sejenis reaksi anti agama Buddha, namun tidak menghapuskan kepercayaan yang terus-menerus berkembeng di Kamboja sejak abad ke-11 M.
Adik bungsunya menggantikannya pada tahun 1066 M dan memerintah di bawah nama Harshavarman II, samapai menjelang tahun 1080 M. Ia terpaksa menghadapi serangan orang-orang Chamyang telah memerdekan diri dan bahkan berhasil membakar ibi kota kuno Sambor Prei Kuk, setelah mengumpulkan harta rampasan yang menguntungkan. Di bawah pemerintahannya, kekuasaan dinasti Surya menurun dengan cepat. Setelah memeribntah selama kurang dari satu abad, dinasti tersebut harus menyerah ke dinasti yang baru.
B. INDOCINA DALAM BAYANGAN ANGKOR
1. CHAMPA

Menjelang akhir abad ke-9 M, sebuah dinasti baru memerintah di Champa, dengan ibu kotanya Indrapura, yang sekarang bernama Quang-Nam. Pendirinya adalah Indravarman II (875-sebelum tahun 898 M), penganut agama Buddha yang saleh. Di bawah pemerintahannya dan para penggantinya, setelah mengalami peperangan pada abad sebelumnya, terjalin hubungan damai dengan nusantara.
Raja Indravarman III (menjelang tahun 918-960 M) terpaksa mengusirserangan-serangan Khmer dan mungkin untuk menghadapi bahaya itu, ia sangat tekun mengirim utuysan-utusan ke Cina. Namun pengaruh Angkor cukup dominan di bawah pemerintahannya. Sementara itu bahaya yang jauh lebih besar mulai menekan Campa. Setelah menjadi merdeka, Annam mengambil alih politik ekspansi dan melirik dataran-dataran rendah subur dan kota-kota Champa yang makmur. Sejak akhir abad ke-10 M mulailah perang fatal dan sulit didamaikan antara kedua kekuatan, karena dari segi kelangsungan hidup negeri itulah yang dipertaruhkan. Pada tahun 982 M orang Vietnam merebut Indrapura.
Orang Cham yang terpencar, berkumpul kembali di bawah seorangraja baru, Harivarman II (988-998 M) yang menempatkan ibukotanya lebih ke selatan, di Vijaya (Binh-dinh). Tekanan-tekanan Vietnam tidak akan pernah mengendur lagi , sebaliknya hamper setiap tahun terjadi serbu-serbuan, samapi ke Vijaya yang direbut pada tahun 1044 M dan dibumihanguskan pada tahun 1069 M. dengan demikian negeri Champa kehilangan wilayah bagian utara, karena pada waktu yang bersamaan ia harus menghadapi serangan-serangan orang baru Khmer.
Harivarman IV (1070-1080 M) untuyk sementara menghentikan penggerogotan yang tak henti-hentinya itu, ia juga berhasil dalam serangan kilat ke kamboja. Ia mengembalikan kedamaian serta kejayaannya kepada negerinya. Penganti-pengantinya: Jaya Indravarman II (1081-1113 M), Harivarman V (1113-1139 M), dan Jaya Indravarman III (1139-1145 M), boleh dikatakan memerintah dalam keadaan aman dan ketenangan, sebelum dinasti dan negeri itu jatuh pada tahun 1145 M ke tangan pasukan Khmer.
2. SIAM
Pada awal abad ke-11 M, delta siam menjadi bagian integral dari dunia Angkor, dapat dilihat dari raja Angkor terbesar Suryavarman I, asalnya Pangeran Ligor. Walaupun dipengaruhi kerajaan Khmer, bekas negeri Dvaravati itu tidak meninggalkan ajaran Buddha, bahkan ia menjadipusat agama Buddha Hinayana yang paling ortodoks. Pada periode yang sama, orang Mon dan Pyu dari delta Irawadi dipersatukan oleh raja Anorata (1044-1077 M), raja inilah yang menjadikan seterusnya negerinya pemeluik agama Buddha. Dengan diperkuat oleh Birma yang juga telah memeluk agama itu dan melalui negeri itu oleh kontak berkelanjutan dengan Sri Lanka, doktrin tersebut perlahan-lahan menyebar ke timur. Dengan penaklukan itu, raja-raja Angkor yang berajaran Siwa mengintegrasikan ke dalam negerinya pusat agama yang meruntuhkan kekuasaan mereka, meskipun bukanlah sebagai penyebab langsung.
3. VIETNAM
Samapi abad ke-10 M, delta Tonkin tal lebih daripada sebuah jajahan Cina. Selama masa penjajahan yang berlangsung lebih dari seribu tahun, orang Vietnam menyerap kebudayaan penjajahnya, sehingga akan membekas untuk selama-lamanya.
Dengan memanfaatkan kemerosotan kekuasaan maharaja-maharaja dinasti Tang, sebuah dinasti setempat merebut kekuasaan pada tahun 938 M. Tentu saja Annam tetap mengakui wewenang yang hanya tinggal namanya saja dari Maharaja Cina, meminta dukungannya jika diperlukan dan tetap menggunakan aksara Cina, serta hokum dan kebudayaannya. Ketika itu orang-orang Vietnam mulai merasa sesak di delta mereka, karena hanya mampu menggarap dataran rendah, satu-satunya lahan yang diincar adalah yang terletak disebelah selatan yaitu Campa.
Dinasti-dinasti Vietnam Le awal (tahun 980-1009 M), lalu Ly (1010-1225 M), sedikit demi sedikit memperluas kekuasaan mereka, sampai menghancurkan Campa sama sekali. Namun perluasan kekuasaan sepanjang pesisr selatan yang dilakukannya dengan kekerasan hanya menghasilkan perkembangan jumlah penduduk dan bukannya kejayaaan suatu peradaban. Orang Vietnam mendapat kemenangan karena jumlah mereka. Walaupun mereka masih menggunakan bagab administrasi Cina, tetapi cukup kendur , bangsa Vietnam menjadi suatu kesatuan berkat geografinya daripada pikiran yang menyatukan. Bangsa ini terdiri dari elemen-elemen dasar identik yang bertdsampingan tetapi relatifberdiri sendiri, karena masing-masing berusaha bertahan hidup sendiri.
C. PUNCAK KEJAYAAN KERAJAAN ANGKOR
Penghancuran Angkor oleh orang Cham merupakan pukulan fatal pada tradisi Hindu, yang sampai waktu itu telah menyemarakan peradaban Khmer. Peristiwa itu sebenarnya mungkin dapat pula menandai akhir Kamboja itu sendiri. Bersamaan dengan itu peradaban yang dikembangkan dan mencapai kristalisasi di Angkor menemui jalan buntu. Ia tidak mampu lagi memperbarui diri yang dikembangkan sebanyak-banyaknya hanyalah tema-tema itu saja.
Hal ini diperparah lagi dengan majunya agama Buddha sepanjang abad ke-12 M, berdasarka jumlah patung Sang Bijaksana yang bertambah banyak. Fakta yang lebih bermakna lagi: seorang raja Angkor, Dharanindravarman II, secara resmi memeluk agama Buddha. Setelah itu kemenangan orang Cham dianggap sebagai bencana supra-natural, isyarat dari langit: akhir suatu tatanan yang begitu digembor-gemborkan, karena seolah-olah diciptakan oleh para dewa sendiri dan tak tergoyahkan.

1. JAYAVARMAN VII
Ini adalah tokoh yang menangguhkan pukulan nasib fatal dengan menempatkan negerinya di bawah bendera agama Buddha. Ia seorang tokoh yang memepesonakan, dan yang paling menonjol dalam sejarah Khmer. Jayavarman VII ini adalah raja yang paling sombong dan haus kemenangan diantara semua raja Khmer yang ditonjolkannya adalah tindakan-tindakannya.
Ia dalam naik tahta tidak langsung mengantikan ayahnya, hal ini ketika ayahnya wafat, ia sedang berperangdi Champa dan tidak sempat menuntut haknya.dia tidak berbuat apapun ketika Yasovarman II naik takhta bahkan ketika Angkor direbut oleh Tribhuvanadityavarman. Ia telah melewatkan semua periode tersebut dengan menyendiri di Preah Khan, Kompong Svay.
Sesudah menderita penyakit kusta, lalu sembuh berkat keajaiban. Ia lalu kembali ke panggung politik dan keagamaan. Ketika penyerbuan orang Cham lah yang mendorongnya bertindak. Setelah serentetan peperangan dahsyat, di antaranya pertempuran di danau-danau, ia mengusir kaum perusak Angkor itu dan pada tahun 1811 M ia naik takhta. Dalam usia lebih dari enam puluh tahun dan ibu kota hangus, ia membalas dendam dengan cara yang mengerikan. Ia menyerbu Champa, mencaplok Vijaya. Sebelumnya ia mendapat jaminan Annam akan netral. Tetapi begitu ia berhasil, pasukannyaditamabh dengan pasukan-pasukan dari Champa, Siam, Birma, menyerbu Annam. Di utara barat ia lebih memajukan lagi batas kerajaannya samapai ke Vientiane, sampai Birma, di selatan sampai Semenanjung Melayu.
Namun dibalik kesuksessannya dalam aspek beragamanya, kegiatan yang menggebu nyaris lupa daratan, padahal ia seorang penganut Buddha Mahayana. Di bawah panji agama Buddha yang agak konvesional Jayavarman sama sekali tidak meninggalkan kultus raja, dewa diatas bumi. Tampaknya ia sama sekali tidak mengubah ritus Hindhu yang mendasari kerajaan Angkor.

D. KEMUNDURAN DAN AKHIR KERAJAAN ANGKOR
Setelah Jayavarman VII, di Angkor tidak ada lagi raja yang patut dicatat. Ibu kota masih ada dan penampilannya tidak berubah. Teks-teks Cina, Tcheu Takuan, pengembara terkenal yang mengunjungi Kamboja pada tahun 1295 M masih menggambarkan sebagai kota terkaya, rajanya yang paling berkuasa di laut-laut selatan. Sampai tahun 1430, raja-raja Khmer tetap memerintah di Angkor.
Penyebab lainnya dalam bidang ekonomi kerajaan ini berada dalam keadaan bahaya. System hidrolis yang dimiliki Angkor perlu pemeliharaan dan perkembangan agar tidak dipenuhi lumpur dan macet. Dengan melemahnya kekuasaan raja maka semakin menuju kebangkrutan ekonomi karena hanya raja yang mampu mengelolo jaringan raksasa ini. Tak ayal lagi pertanian di Angkor semakinmenurun dan berakibat pada menurunnya jumlah penduduk. Selain itu wabah penyakit malaria ikut memperparah kejatuhan Angkor.
Kehilangan Angkor dipercepat oleh serbuan Thai yang bertubui-tubi dan merusak. Setelah kota-kota di Angkor dapat direbut oleh musuh-musuh mereka lalu di rampas kekayaannya dan dibakar. Maka orang Kamboja meninggalkan Angkor.

Kerajaan Ayutthiya/Ayutthaya

A. Sejarah Thailand

Asal mula Thailand secara tradisional dikaitkan dengan sebuah kerajaan yang berumur pendek, Kerajaan Sukhothai yang didirikan pada tahun 1238. Kerajaan ini kemudian diteruskan Kerajaan Ayutthaya yang didirikan pada pertengahan abad ke-14 dan berukuran lebih besar dibandingkan Sukhothai. Kebudayaan Thailand dipengaruhi dengan kuat oleh Tiongkok dan India. Hubungan dengan beberapa negara besar Eropa dimulai pada abad ke-16 namun meskipun mengalami tekanan yang kuat, Thailand tetap bertahan sebagai satu-satunya negara di Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah oleh negara Eropa, meski pengaruh Barat, termasuk ancaman kekerasan, mengakibatkan berbagai perubahan pada abad ke-19 dan diberikannya banyak kelonggaran bagi pedagang-pedagang Britania.

Sebuah revolusi tak berdarah pada tahun 1932 menyebabkan dimulainya monarki konstitusional. Sebelumnya dikenal dengan nama Siam, negara ini mengganti namanya menjadi Thailand pada tahun 1939 dan untuk seterusnya, setelah pernah sekali mengganti kembali ke nama lamanya pasca-Perang Dunia II. Pada perang tersebut, Thailand bersekutu dengan Jepang; tetapi saat Perang Dunia II berakhir, Thailand menjadi sekutu Amerika Serikat. Beberapa kudeta terjadi dalam tahun-tahun setelah berakhirnya perang, namun Thailand mulai bergerak ke arah demokrasi sejak tahun 1980-an.

B. Kerajaan Ayutthaya

Kerajaan Ayutthaya didirikan pada tahun 1350 Raja Ramathibodi I (Uthong), yang mendirikan Ayyuthaya sebagai ibu kota kerajaannya dan mengalahkan dinasti Kerajaan Sukhothai pada tahun 1376. Dalam perkembangannya, Ayyuthaya sangat aktif melakukan perdagangan dengan berbagai negara asing seperti Tiongkok, India, Jepang, Persia dan beberapa negara Eropa.

Dalam perkembangannya, Ayyuthaya sangat aktif melakukan perdagangan dengan berbagai negara asing seperti Tiongkok, India, Jepang, Persia dan beberapa negara Eropa. Penguasa Ayyuthaya bahkan mengizinkan pedagang Portugis, Spanyol, Belanda, dan Perancis untuk mendirikan pemukiman di luar tembok kota Ayyuthaya. Raja Narai (1656-1688) bahkan memiliki hubungan yang sangat baik dengan Raja Louis XIV dari Perancis dan tercatat pernah mengirimkan dutanya ke Perancis.
.
C. Hubungan Ayutthaya Dengan Myanmar

Pada tahun 1700-an, fase terakhir kerajaan tiba. Burma, yang telah mengendalikan dan juga lanna kerajaan mereka bersatu di bawah dinasti yang kuat, meluncurkan beberapa usaha invasi pada tahun 1750 dan 1760. Akhirnya, pada tahun 1767, Burma menyerang dan menaklukkan ibu kota itu. Keluarga kerajaan meninggalkan kota di mana raja meninggal karena kelaparan sepuluh hari kemudian. Ayutthaya garis kerajaan yang telah padam. Secara keseluruhan ada 33 raja di periode ini, termasuk raja tidak resmi.
Setelah melalui pertumpahan darah perebutan kekuasaan antar dinasti, Ayutthaya memasuki abad keemasannya pada perempat kedua abad ke-18. Di masa yang relatif damai tersebut, kesenian, kesusastraan dan pembelajaran berkembang. Perang yang terjadi kemudian ialah melawan bangsa luar. Ayyuthaya mulai berperang melawan dinasti Nguyen (penguasa Vietnam Selatan) pada tahun 1715 untuk memperebutkan kekuasaan atas Kamboja.

Meskipun demikian ancaman terbesar datang dari Burma dengan pemimpin Raja Alaungpaya yang baru berkuasa setelah menaklukkan wilayah-wilayah Suku Shan. Pada tahun 1765 wilayah Thai diserang oleh dua buah pasukan besar Burma, yang kemudian bersatu di Ayutthaya. Ayutthaya akhirnya menyerah dan dibumihanguskan pada tahun 1767 setelah pengepungan yang berlarut-larut.

Pada tahun 1765 wilayah Thai diserang oleh dua buah pasukan besar Burma, yang kemudian bersatu di Ayutthaya. Menghadapi kedua pasukan besar tersebut, satu-satunya perlawanan yang cukup berarti dilakukan oleh sebuah desa bernama Bang Rajan. Ayutthaya akhirnya menyerah dan dibumihanguskan pada tahun 1767 setelah pengepungan yang berlarut-larut. Berbagai kekayaan seni, perpustakaan-perpustakaan berisi kesusastraan, dan tempat-tempat penyimpanan dokumen sejarah Ayutthaya nyaris musnah; dan kota tersebut ditinggalkan dalam keadaan hancur.

11 Oktober 2011

Ramalan Jayabaya

Ramalan Jayabaya adalah ramalan dalam tradisi Jawa yang dipercaya ditulis oleh Jayabaya, raja Kerajaan Kadiri. Ramalan ini dikenal pada khususnya di kalangan masyarakat Jawa.

Maharaja Jayabaya adalah raja Kadiri yang memerintah sekitar tahun 1135-1157. Nama gelar lengkapnya adalah Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa.



  1.  Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran — Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.
  2. Tanah Jawa kalungan wesi — Pulau Jawa berkalung besi.
  3. Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang — Perahu berlayar di ruang angkasa.
  4. Kali ilang kedhunge — Sungai kehilangan lubuk.
  5. Pasar ilang kumandhang — Pasar kehilangan suara.
  6. Iku tandha yen tekane jaman Jayabaya wis cedhak — Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat.
  7. Bumi saya suwe saya mengkeret — Bumi semakin lama semakin mengerut.
  8. Sekilan bumi dipajeki — Sejengkal tanah dikenai pajak.
  9. Jaran doyan mangan sambel — Kuda suka makan sambal.
  10. Wong wadon nganggo pakeyan lanang — Orang perempuan berpakaian lelaki.
  11. Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking jaman— Itu pertanda orang akan mengalami zaman berbolak-balik
  12. Akeh janji ora ditetepi — Banyak janji tidak ditepati.
  13. Akeh wong wani nglanggar sumpahe dhewe— Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.
  14. Manungsa padha seneng nyalah— Orang-orang saling lempar kesalahan.
  15. Ora ngendahake hukum Allah— Tak peduli akan hukum Allah.
  16. Barang jahat diangkat-angkat— Yang jahat dijunjung-junjung.
  17. Barang suci dibenci— Yang suci (justru) dibenci.
  18. Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit— Banyak orang hanya mementingkan uang.
  19. Lali kamanungsan— Lupa jati kemanusiaan.
  20. Lali kabecikan— Lupa hikmah kebaikan.
  21. Lali sanak lali kadang— Lupa sanak lupa saudara.
  22. Akeh bapa lali anak— Banyak ayah lupa anak.
  23. Akeh anak wani nglawan ibu— Banyak anak berani melawan ibu.
  24. Nantang bapa— Menantang ayah.
  25. Sedulur padha cidra— Saudara dan saudara saling khianat.
  26. Kulawarga padha curiga— Keluarga saling curiga.
  27. Kanca dadi mungsuh — Kawan menjadi lawan.
  28. Akeh manungsa lali asale — Banyak orang lupa asal-usul.
  29. Ukuman Ratu ora adil — Hukuman Raja tidak adil
  30. Akeh pangkat sing jahat lan ganjil— Banyak pejabat jahat dan ganjil
  31. Akeh kelakuan sing ganjil — Banyak ulah-tabiat ganjil
  32. Wong apik-apik padha kapencil — Orang yang baik justru tersisih.
  33. Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin — Banyak orang kerja halal justru malu.
  34. Luwih utama ngapusi — Lebih mengutamakan menipu.
  35. Wegah nyambut gawe — Malas menunaikan kerja.
  36. Kepingin urip mewah — Inginnya hidup mewah.
  37. Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka — Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.
  38. Wong bener thenger-thenger — Si benar termangu-mangu.
  39. Wong salah bungah — Si salah gembira ria.
  40. Wong apik ditampik-tampik— Si baik ditolak ditampik.
  41. Wong jahat munggah pangkat— Si jahat naik pangkat.
  42. Wong agung kasinggung— Yang mulia dilecehkan
  43. Wong ala kapuja— Yang jahat dipuji-puji.
  44. Wong wadon ilang kawirangane— perempuan hilang malu.
  45. Wong lanang ilang kaprawirane— Laki-laki hilang perwira/kejantanan
  46. Akeh wong lanang ora duwe bojo— Banyak laki-laki tak mau beristri.
  47. Akeh wong wadon ora setya marang bojone— Banyak perempuan ingkar pada suami.
  48. Akeh ibu padha ngedol anake— Banyak ibu menjual anak.
  49. Akeh wong wadon ngedol awake— Banyak perempuan menjual diri.
  50. Akeh wong ijol bebojo— Banyak orang tukar pasangan.
  51. Wong wadon nunggang jaran— Perempuan menunggang kuda.
  52. Wong lanang linggih plangki— Laki-laki naik tandu.
  53. Randha seuang loro— Dua janda harga seuang (Red.: seuang = 8,5 sen).
  54. Prawan seaga lima— Lima perawan lima picis.
  55. Dhudha pincang laku sembilan uang— Duda pincang laku sembilan uang.
  56. Akeh wong ngedol ngelmu— Banyak orang berdagang ilmu.
  57. Akeh wong ngaku-aku— Banyak orang mengaku diri.
  58. Njabane putih njerone dhadhu— Di luar putih di dalam jingga.
  59. Ngakune suci, nanging sucine palsu— Mengaku suci, tapi palsu belaka.
  60. Akeh bujuk akeh lojo— Banyak tipu banyak muslihat.
  61. Akeh udan salah mangsa— Banyak hujan salah musim.
  62. Akeh prawan tuwa— Banyak perawan tua.
  63. Akeh randha nglairake anak— Banyak janda melahirkan bayi.
  64. Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne— Banyak anak lahir mencari bapaknya.
  65. Agama akeh sing nantang— Agama banyak ditentang.
  66. Prikamanungsan saya ilang— Perikemanusiaan semakin hilang.
  67. Omah suci dibenci— Rumah suci dijauhi.
  68. Omah ala saya dipuja— Rumah maksiat makin dipuja.
  69. Wong wadon lacur ing ngendi-endi— Di mana-mana perempuan lacur
  70. Akeh laknat— Banyak kutukan
  71. Akeh pengkianat— Banyak pengkhianat.
  72. Anak mangan bapak—Anak makan bapak.
  73. Sedulur mangan sedulur—Saudara makan saudara.
  74. Kanca dadi mungsuh—Kawan menjadi lawan.
  75. Guru disatru—Guru dimusuhi.
  76. Tangga padha curiga—Tetangga saling curiga.
  77. Kana-kene saya angkara murka — Angkara murka semakin menjadi-jadi.
  78. Sing weruh kebubuhan—Barangsiapa tahu terkena beban.
  79. Sing ora weruh ketutuh—Sedang yang tak tahu disalahkan.
  80. Besuk yen ana peperangan—Kelak jika terjadi perang.
  81. Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor—Datang dari timur, barat, selatan, dan utara.
  82. Akeh wong becik saya sengsara— Banyak orang baik makin sengsara.
  83. Wong jahat saya seneng— Sedang yang jahat makin bahagia.
  84. Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul— Ketika itu burung gagak dibilang bangau.
  85. Wong salah dianggep bener—Orang salah dipandang benar.
  86. Pengkhianat nikmat—Pengkhianat nikmat.
  87. Durjana saya sempurna— Durjana semakin sempurna.
  88. Wong jahat munggah pangkat— Orang jahat naik pangkat.
  89. Wong lugu kebelenggu— Orang yang lugu dibelenggu.
  90. Wong mulya dikunjara— Orang yang mulia dipenjara.
  91. Sing curang garang— Yang curang berkuasa.
  92. Sing jujur kojur— Yang jujur sengsara.
  93. Pedagang akeh sing keplarang— Pedagang banyak yang tenggelam.
  94. Wong main akeh sing ndadi—Penjudi banyak merajalela.
  95. Akeh barang haram—Banyak barang haram.
  96. Akeh anak haram—Banyak anak haram.
  97. Wong wadon nglamar wong lanang—Perempuan melamar laki-laki.
  98. Wong lanang ngasorake drajate dhewe—Laki-laki memperhina derajat sendiri.
  99. Akeh barang-barang mlebu luang—Banyak barang terbuang-buang.
  100. Akeh wong kaliren lan wuda—Banyak orang lapar dan telanjang.
  101. Wong tuku ngglenik sing dodol—Pembeli membujuk penjual.
  102. Sing dodol akal okol—Si penjual bermain siasat.
  103. Wong golek pangan kaya gabah diinteri—Mencari rizki ibarat gabah ditampi.
  104. Sing kebat kliwat—Siapa tangkas lepas.
  105. Sing telah sambat—Siapa terlanjur menggerutu.
  106. Sing gedhe kesasar—Si besar tersasar.
  107. Sing cilik kepleset—Si kecil terpeleset.
  108. Sing anggak ketunggak—Si congkak terbentur.
  109. Sing wedi mati—Si takut mati.
  110. Sing nekat mbrekat—Si nekat mendapat berkat.
  111. Sing jerih ketindhih—Si hati kecil tertindih
  112. Sing ngawur makmur—Yang ngawur makmur
  113. Sing ngati-ati ngrintih—Yang berhati-hati merintih.
  114. Sing ngedan keduman—Yang main gila menerima bagian.
  115. Sing waras nggagas—Yang sehat pikiran berpikir.
  116. Wong tani ditaleni—Si tani diikat.
  117. Wong dora ura-ura—Si bohong menyanyi-nyanyi
  118. Ratu ora netepi janji, musna panguwasane—Raja ingkar janji, hilang wibawanya.
  119. Bupati dadi rakyat—Pegawai tinggi menjadi rakyat.
  120. Wong cilik dadi priyayi—Rakyat kecil jadi priyayi.
  121. Sing mendele dadi gedhe—Yang curang jadi besar.
  122. Sing jujur kojur—Yang jujur celaka.
  123. Akeh omah ing ndhuwur jaran—Banyak rumah di punggung kuda.
  124. Wong mangan wong—Orang makan sesamanya.
  125. Anak lali bapak—Anak lupa bapa.
  126. Wong tuwa lali tuwane—Orang tua lupa ketuaan mereka.
  127. Pedagang adol barang saya laris—Jualan pedagang semakin laris.
  128. Bandhane saya ludhes—Namun harta mereka makin habis.
  129. Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan—Banyak orang mati lapar di samping makanan.
  130. Akeh wong nyekel bandha nanging uripe sangsara—Banyak orang berharta tapi hidup sengsara.
  131. Sing edan bisa dandan—Yang gila bisa bersolek.
  132. Sing bengkong bisa nggalang gedhong—Si bengkok membangun mahligai.
  133. Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil—Yang waras dan adil hidup merana dan tersisih.
  134. Ana peperangan ing njero—Terjadi perang di dalam.
  135. Timbul amarga para pangkat akeh sing padha salah paham—Terjadi karena para pembesar banyak salah faham.
  136. Durjana saya ngambra-ambra—Kejahatan makin merajalela.
  137. Penjahat saya tambah—Penjahat makin banyak.
  138. Wong apik saya sengsara—Yang baik makin sengsara.
  139. Akeh wong mati jalaran saka peperangan—Banyak orang mati karena perang.
  140. Kebingungan lan kobongan—Karena bingung dan kebakaran.
  141. Wong bener saya thenger-thenger—Si benar makin tertegun.
  142. Wong salah saya bungah-bungah—Si salah makin sorak sorai.
  143. Akeh bandha musna ora karuan lungane—Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe Banyak harta hilang entah ke mana, Banyak pangkat dan derajat lenyap entah mengapa.
  144. Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram—Banyak barang haram, banyak anak haram.
  145. Bejane sing lali, bejane sing eling—Beruntunglah si lupa, beruntunglah si sadar.
  146. Nanging sauntung-untunge sing lali—Tapi betapapun beruntung si lupa.
  147. Isih untung sing waspada—Masih lebih beruntung si waspada.
  148. Angkara murka saya ndadi—Angkara murka semakin menjadi.
  149. Kana-kene saya bingung—Di sana-sini makin bingung.
  150. Pedagang akeh alangane—Pedagang banyak rintangan.
  151. Akeh buruh nantang juragan—Banyak buruh melawan majikan.
  152. Juragan dadi umpan—Majikan menjadi umpan.
  153. Sing suwarane seru oleh pengaruh—Yang bersuara tinggi mendapat pengaruh.
  154. Wong pinter diingar-ingar—Si pandai direcoki.
  155. Wong ala diuja—Si jahat dimanjakan.
  156. Wong ngerti mangan ati—Orang yang mengerti makan hati.
  157. Bandha dadi memala—Hartabenda menjadi penyakit
  158. Pangkat dadi pemikat—Pangkat menjadi pemukau.
  159. Sing sawenang-wenang rumangsa menang — Yang sewenang-wenang merasa menang
  160. Sing ngalah rumangsa kabeh salah—Yang mengalah merasa serba salah.
  161. Ana Bupati saka wong sing asor imane—Ada raja berasal orang beriman rendah.
  162. Patihe kepala judhi—Maha menterinya benggol judi
  163. Wong sing atine suci dibenci—Yang berhati suci dibenci
  164. Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat—Yang jahat dan pandai menjilat makin kuasa.
  165. Pemerasan saya ndadra—Pemerasan merajalela.
  166. Maling lungguh wetenge mblenduk — Pencuri duduk berperut gendut.
  167. Pitik angrem saduwure pikulan—Ayam mengeram di atas pikulan.
  168. Maling wani nantang sing duwe omah—Pencuri menantang si empunya rumah.
  169. Begal pada ndhugal—Penyamun semakin kurang ajar.
  170. Rampok padha keplok-keplok—Perampok semua bersorak-sorai.
  171. Wong momong mitenah sing diemong—Si pengasuh memfitnah yang diasuh
  172. Wong jaga nyolong sing dijaga—Si penjaga mencuri yang dijaga.
  173. Wong njamin njaluk dijamin—Si penjamin minta dijamin.
  174. Akeh wong mendem donga—Banyak orang mabuk doa.
  175. Kana-kene rebutan unggul—Di mana-mana berebut menang.
  176. Angkara murka ngombro-ombro—Angkara murka menjadi-jadi.
  177. Agama ditantang—Agama ditantang.
  178. Akeh wong angkara murka—Banyak orang angkara murka.
  179. Nggedhekake duraka—Membesar-besarkan durhaka.
  180. Ukum agama dilanggar—Hukum agama dilanggar.
  181. Prikamanungsan di-iles-iles—Perikemanusiaan diinjak-injak.
  182. Kasusilan ditinggal—Tata susila diabaikan
  183. Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi—Banyak orang gila, jahat dan hilang akal budi.
  184. Wong cilik akeh sing kepencil—Rakyat kecil banyak tersingkir.
  185. Amarga dadi korbane si jahat sing jajil—Karena menjadi kurban si jahat si laknat.
  186. Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit—Lalu datang Raja berpengaruh dan berprajurit.
  187. Lan duwe prajurit—Dan punya prajurit.
  188. Negarane ambane saprawolon—Lebar negeri seperdelapan dunia.
  189. Tukang mangan suap saya ndadra—Pemakan suap semakin merajalela.
  190. Wong jahat ditampa—Orang jahat diterima.
  191. Wong suci dibenci—Orang suci dibenci.
  192. Timah dianggep perak—Timah dianggap perak.
  193. Emas diarani tembaga—Emas dibilang tembaga
  194. Dandang dikandakake kuntul—Gagak disebut bangau.
  195. Wong dosa sentosa—Orang berdosa sentosa.
  196. Wong cilik disalahake—Rakyat jelata dipersalahkan.
  197. Wong nganggur kesungkur—Si penganggur tersungkur.
  198. Wong sregep krungkep—Si tekun terjerembab.
  199. Wong nyengit kesengit—Orang busuk hati dibenci.
  200. Buruh mangluh—Buruh menangis.
  201. Wong sugih krasa wedi—Orang kaya ketakutan.
  202. Wong wedi dadi priyayi—Orang takut jadi priyayi.
  203. Senenge wong jahat—Berbahagialah si jahat.
  204. Susahe wong cilik—Bersusahlah rakyat kecil.
  205. Akeh wong dakwa dinakwa—Banyak orang saling tuduh.
  206. Tindake manungsa saya kuciwa—Ulah manusia semakin tercela.
  207. Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi—Para raja berunding negeri mana yang dipilih dan disukai.
  208. Wong Jawa kari separo—Orang Jawa tinggal separo.
  209. Landa-Cina kari sejodho — Belanda-Cina tinggal sepasang.
  210. Akeh wong ijir, akeh wong cethil—Banyak orang kikir, banyak orang bakhil.
  211. Sing eman ora keduman—Si hemat tidak mendapat bagian.
  212. Sing keduman ora eman—Yang mendapat bagian tidak berhemat.
  213. Akeh wong mbambung—Banyak orang berulah dungu.
  214. Akeh wong limbung—Banyak orang limbung.
  215. Selot-selote mbesuk wolak-waliking jaman teka—Lambat-laun datanglah kelak terbaliknya zaman.